Ilmu meraga - sukma atau ngrogo-sukmo sangat terkenal sekali di tanah Jawa ini.
Namun kali ini saya ingin membahas dari sudut spiritual-ilmiah.
Sebenarnya jika anda mampu melakukan sholat khusuk,bagi anda yang beragama Islam,tentu secara otomatis anda mampu untuk ngrogo-sukmo. Kenapa ? Jawabannya adalah bahwa sholat itu sendiri adalah suatu proses mi'raj - ashsholatu mi'rajul mu'min.
Dan bagi anda yang non muslim juga sama. Jika anda mampu bermeditasi secara paripurna maka andapun mampu meraga-sukma.
Mengapa saya katakan demikian ?
Karena diri kita yang hakiki tidaklah berada di dalam tubuh namun tidak juga di luar tubuh,tetapi sekaligus ada di dalam tubuh dan juga di luar tubuh. Atau tepatnya diri kita yang hakiki ini adanya meliputi seluruh tubuh fisik ini namun juga mampu 'meluas' seluas alam semesta ini.
Sebenarnya ilmu Rogo-Sukmo jika dikaji secara murni (tanpa bantuan Jin),adalah sangat scientific dan termasuk dalam pembahasan methaphisic phenomenon.
Namun perlu diketahui dalam prakteknya di banyak perguruan di Jawa, ternyata (setahu saya) banyak yang menggunakan bantuan jin.
Sebenarnya yang betul-betul murni ilmu, adalah tak berbeda dengan proses orang sholat. Sebab hakekatnya sholat (yang benar-benar sholat) adalah mi’roj, artinya perjalanan atau bepergiannya jiwa. Hanya jika sholat itu jiwa berpergian menghadap hadirat Allah (yang tidak dimana-mana tapi ada di mana-mana,di SINI ), sedangkan rogo-sukmo itu perginya jiwa keluar dari tubuh ke tempat yang di kehendaki.
Seperti halnya pergi dengan tubuh nyata ini, kalau jiwa pergi dengan disengaja (bukan mimpi, sebab mimpi itu tak disengaja ,ia atas kehendak Allah mutlak) maka jika tak tahu lokasi yang dituju, baik di alam nyata maupun alam ghoib,ia boleh jadi kesasar / tersalah tempat. Misalnya jika mau pergi ke Mekah, jika belum tau arah / lokasi boleh kesasar ke mana-mana.
Memang kita tak akan mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah. Oleh sebab itulah kita memerlukan Nur-Nya,Nur Shulthonan Nashiroh( yaitu Nur kekuasaan yang menolong) yaitu pertolongan Allah. Melalui Nur itu Allah menolong kita terhadap apa yang kita hajatkan.
Kembali ke masalah Rogo-Sukmo. Di bawah ini saya tulis beberapa langkah latihan yang jika lakukan mampu meningkatkan kemampuan kita dalam rogo-sukmo.
Latihan Rogo-Sukmo,_rogo sukmo secara ilmiah
Tahap awal, Relaksasi Diri
Relaksasi diri meliputi fisik dan mental. Tak ada cara khusus dalam hal ini.
Kemampuan bersantai adalah syarat pertama sekaligus yang paling utama untuk raga - sukma.
(Biasanya untuk orang-orang awal, saya suruh latihan dengan cara mengatur pernafasan)
Tahapan ke2, Tahapan Tidur dalam keadaan Sadar
Tahap ini secara ilmiah dikenal sebagai hypnogogic state.Tidak ada syarat khusus.
Dua cara yang biasa ditempuh sebagai latihan adalah:
• Angkat lengan bagian atas sehingga tidak menyentuh tempat tidur. Sehingga ketika jatuh tertidur, lengan tersebut akan jatuh,maka akan secara otomatis kembali terjaga.
• Konsentrasikan pikiran pada sebuah objek. Saat objek tersebut mengisi pikiran dengan jelas, berarti telah berhasil masuk tahap hypnogogic. Secara pasif, tatap bayangan tersebut. Latihan ini membantu masuk kondisi state of near-sleep ( tahap hampir tidur ).
Berikutnya adalah Tahapan Tidur Lebih Dalam
Mulai pusatkan perhatian. Perhatikan pandangan dengan mata tertutup.
Jangan bergerak untuk sementara waktu. Cukup perhatikan layar mata yang gelap gulita. Selang beberapa saat, akan muncul pola-pola cahaya. Abaikan saja. Dia akan hilang dengan sendirinya ketika kita lebih masuk konsentrasi. Ketika ini Anda akan masuk dalam keadaan deeper state of relaxation, keadaan dimana Anda kehilangan kesadaran akan tubuh dan rangsang sensor. Keadaan ideal untuk segera meninggalkan tubuh ( Raga Sukma ).
Saat dimana Anda merasa segar, lepas dan tak akan mengalami kelelahan normal. Agar mudah masuk kondisi ini saya sarankan berlatih pada waktu dini hari, atau setelah sengaja tidur sejenak.
Tahapan ke3,masuk ke tahap rasa getaran
Ini adalah teknik yang terpenting, dan juga yang sangat samar.
Tahapan ini adalah kelanjutan atau reaksi dari keadaan tahapan sebelumnya. Rasanya seperti ada rasa sensasi seperti geli, kesemutan,dan getaran lembut atau seperti ada aliran listrik yang meliputi seluruh tubuh. Hal ini terjadi karena proses tubuh astral yang mencoba keluar dari tubuh fisik.
Untuk memudahkan masuk ke tahap vibrasional, hal yang perlu dilakukan:
1. Lepas aksesoris yang langsung bersentuhan dengan tangan (jam tangan,misalnya).
2. Gelapkan ruang, sehingga tidak ada cahaya yang masuk, tetapi jangan matikan semua penerangan di rumah.
3. Boleh dengan berbaring, dengan arah posisi tubuh utara selatan, kepala berada di utara.
4. Longgarkan pakaian, pakai pakaian tipis, agar tetap merasa nyaman.
5. Pastikan dalam keadaan sadar, (jam berapa saat itu,ada dimana,dll) dan jangan ada bunyi-bunyian atau ganggguan apa pun saat itu.
6. Masuki tahap relaksasi / meditasi /doa,minta kepada Allah untuk raga sukma.
7. Bagi sugesti pada diri, bahwa akan tetap mengingat semua yang akan terjadi saat meraga sukma, yakin bahwa itu adalah suatu pengalaman nyata dan berguna.
8. Lepaskan pernafasan secara alami, bernafaslah dengan mulut setengah terbuka.
9. Saat bernafas, konsentrasikan pada kekosongan yang ada di depan mata .
10.Konsentarasikan pikiran pada satu titik di atas kepala,setelah itu, naikan titik tersebut menjadi naik lebih tinggi lagi.
11.Putar titik tersebut 90 derajat dengan garis imajiner yang dibuat di atas kepala. Fokuskan perhatian pada titik tesebut. Masuki tahap vibrasi (rasa getaran) dan kembalikan titik tersebut ke arah dada anda.
Usahakan untuk mengendalikan vibrasi (rasa getaran) tersebut dengan memaksanya masuk ke kepala , melewati tubuh, kemudian turun ke ujung jari kaki, buat seluruh tunuh diselimuti getaran, memproduksi getaran dari kepala hingga ujung kaki.
Lakukan sampai Anda betul-betul boleh mengatur gelombang getar/vibrasi tersebut sesuai perintah yang Anda mau.
Tahapan Pelepasan diri dari tubuh
Boleh dengan duduk bersila menghadap kiblat atau berbaring dengan posisi kepala di utara.
# Mulai Dengan Pemisahan Awal (belum total)
Kuncinya kontrol pikiran. Jaga pikiran tetap fokus pada ide / niat untuk keluar dari tubuh. Jangan sampai fikiran melamun kemana-mana atau hilang fokus sebab akan mengakibatkan gagal mengontrol keadaan yang diinginkan.
Kini, saat Anda telah berhasil masuk tahap getaran, mulailah gerakkan tangan dan kaki '' tubuh astral/tubuh halus “ Anda. Di sarankan segera menggerakkan anggota / tangan dan kaki “ tubuh astral/tubuh rohani " tersebut sampai berhasil menyentuh benda-benda tertentu di dekat kita.
Sampai disini boleh stop dulu .
Kembalikan anggota tubuh astral tersebut hingga bersatu kembali dengan tubuh nyata. Hentikan laihan. Berbaringlah sampai kembali normal.
Boleh juga terus dengan tahan terakhir ini!
Langkah terakhir dan terpenting : Melepaskan diri secara full / secara sepenuhnya dari tubuh
Tahapan terakhir ini adalah kelanjutan dari tahapan sebelumnya.
Ada dua cara yang boleh dipilih,yaitu :
I. Angkat tubuh astral ke atas meninggalkan tubuh nyata.
Untuk melakukannya, bayangkan tubuh astral Anda semakin ringan dan ringan seperti kapas. Bayangkan betapa mudahnya melayang di udara. Tetapkan pikiran tersebut secara konstan.
Buang jauh-jauh pikiran yang mengecoh.
Kemampuan raga sukma Anda akan segera muncul dengan sendirinya.
.
II. Dengan methode " Rotasi " atau teknik " roll-out " / bergulung.
Cobalah untuk memusing tubuh Anda kedepan. Seperti orang bergulung ke depan. Tetapi jangan melibatkan tubuh fisik Anda, gerakkan hanya tubuh astral/tubuh halus Anda saja. Jika berhasil Anda akan dengan mudah keluar dari tubuh fisik.. Kedua cara tersebut boleh dipakai secara bersama,ataupun pilih salah satu, terserah pada perasaan Anda lebih mudah yang mana.
JAM
Senin, 23 November 2009
APA ILMU RAGA SUKMA
Diposting oleh Khoirul Umam di 20.53 0 komentar
Label: Ilmu Raga Sukma
Senin, 12 Oktober 2009
RENUNGAN MENUJU ILAHI
Pesan Sunan Bonang
DI kalangan ulama tertentu mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. Tetapi apabila kita mencermati manuskrip, justru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik.
Berikut beberapa cuplikan Suluk-suluk Blio
Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.
Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.
Semoga manfaat …
Pesan Syeh Siti Jenar
Hidup itu bersifat baru
dilengkapi pancaindra
sebagai barang pinjaman
bila diminta pemiliknya kembali
menjadi tanah dan membusuk
hancur dan bersifat najis
karena sifatnya itu
Pancaindra tak dapat dipakai sebagai pedoman
Budi, pikiran, angan-angan, kesadaran
satu wujud dengan akal
bisa menjadi gila, sedih, bingung
lupa tidur dan sering tak jujur
ajak dengki terhadap sesama
‘tuk kebahagiaan sendiri
timbulkan jahat dan sombong
ke lembah nista nodai nama dan citra
Manusia yang hakiki
adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
berdiri dengan sendirinya
sukma menjelma sebagai hamba
hamba menjelma pada sukma
napas sirna menuju ketiadaan
badan kembali sebagai tanah
Adanya kehidupan itu karena pribadi
ditetapkan oleh pribadi
ditetapkan oleh kehendak nyata
hidup tanpa sukma
tiada merasakan sakit atau lelah
suka duka pun musnah
berdiri sendiri menurut karsanya
hidup sesuai kehendaknya
Serat Sabdo Jati
1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
kidung dhandhanggula, digambarkan sebagai berikut:
Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang, susuh angin ngendi
nggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, tapake
kuntul nglayang lan gigiring panglu, dst.
Di sini jelas bahwa “sesuatu” yang dicari itu adalah: susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang),gigir panglu (pinggir dari globe),wates langit (batas cakrawala), yang merupakan sesuatu yang “tidak
tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan” yang dalam bahasa
Jawa ” tan kena kinaya ngapa” yang pengertiannya sama
dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.
Dengan pengertian “acintya” atau “sesuatu yang tak tergambarkan” itu
mereka ingin menyatakan bahwa hakekat Tuhan adalah
sebuah “kekosongan”, atau “suwung”, Kekosongan adalah sesuatu yang
ada tetapi tak tergambarkan. Semua yang dicari dalam kidung
dhandhanggula di atas adalah “kekosongan” Susuh angin itu “kosong”,
ati banyu pun “kosong”, demikian pula “tapak kuntul nglayang”
dan “batas cakrawala”.
Jadi hakekat Tuhan adalah “kekosongan abadi
yang padat energi”, seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad
raya, yang meliputi segalanya secara immanen sekaligus transenden,
tak terbayangkan namun mempunyai energi luar biasa, hingga membuat
semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling
bertabrakan. Sang “kosong” atau “suwung” itu meliputi
segalanya, “suwung iku anglimputi sakalir kang ana”. Ia seperti
udara yang tanpa batas dan keberadaannya menyelimuti semua yang ada,
baik di luar maupun di dalamnya.
Karena pada diri kita ada Atman, yang tak lain adalah cahaya atau
pancaran energi Tuhan, maka hakekat Atman adalah juga “kekosongan
yang padat energi itu”. Dengan demikian apabila dalam diri kita
hanya ada Atman, tanpa ada muatan yang lain, misalnya nafsu dan
keinginan, maka “energi Atman” itu akan berhubungan atau menyatu
dengan sang “sumber energi”. Untuk itu yang diperlukan dalam usaha
pencarian adalah mempelajari proses “penyatuan” antara Atman dengan
Brahman itu. Logikanya, apabila hakekat Tuhan adalah “kekosongan”
maka untuk menyatukan diri, maka diri kita pun harus “kosong”, Sebab
hanya “yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosong”.
Caranya dengan berusaha “mengosongkan diri” atau “membersihkan diri”
dengan “menghilangan muatan-muatan yang membebani Atman” yang berupa
berbagai nafsu dan keinginan. Dengan kata lain berusaha
membangkitkan energi Atman agar tersambung dengan energi Brahman.
Dengan uraian di atas maka cara yang harus ditempuh adalah
melaksanakan “yoga samadi”, yang intinya adalah menghentikan segala
aktifitas pikiran beserta semua nafsu dan keinginan yang
membebaninya. Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah
menjadikan diri “kosong”. Karena itu salah satu caranya adalah
dengan “Amati Karya”, menghentikan segala aktifitas kerja.
Apabila “kekosongan” merupakan hakekat Tuhan, apakah Padmasana, yang
di bagian atasnya berbentuk “kursi kosong”, dan dianggap sebagai
simbol singgasana “Sang Maha Kosong” itu adalah perwujudan dalam
bentuk lain dari apa yang dicari orang Jawa lewat kidung-kidung kuna
itu? Apa sebabnya di Jawa tidak ada dan baru diwujudkan dalam bentuk
bangunan ketika leluhur Jawa berada di Bali? Mungkin saat itu di
Jawa memang tidak membutuhkan hal itu, karena masyarakat Jawa lebih
mementingkan “pemujaan leluhur”, yang dianggap
sebagai “pengejawantahan Tuhan”. Kata-kata Wong tuwa iku Pangeran
katon atau Orang tua (leluhur) itu Tuhan yang nampak, adalah bukti
adanya kepercayaan tersebut.
thank’s –Adi Soeripto
teks lengkap kidung dhandhanggulo diatas:
ana pandhita akarya wangsit ,mindha kombang sangajab ing tawang,susuh angin ngendi nggone ,lawan galihing kangkung,wekasane langit jaladri,isining wuluh wungwang lan gigiring punglu,tapaking kuntul anglayang ,manuk miber uluke ngungkuli langit,kusuma njrah ing tawang.
ngambil banyu apikulan warih ,amek geni sami adadamar,kodhok ngemuli elenge ,miwah kang banyu den khum.kang dahaan murub kabesmi .bumi pinetak ingkang pawana. katiyub,tanggal pisan kapurnaman yen anenun sonteg pisan anigesi kuda ngrap ing pandengan
….ana kayu apurwa sawiji ,wit buwana epang keblat papat,agedhong mega tumembe,apradapa kukuwung,.kembang lintang sagaar langit ,sami andaru kilat ,woh surya lan tengsu,asirat bun lawan udan,apupuncak akasa bungkah pertiwi,oyode bayu bajra
wiwitane duk anemu candhi ,gogodhongan miwah wawarangkan, sihing hyang kabesmi kabeh ,tan ana janma kang wruh yen weruho purwane dadi,candhi sagara wetan ,ingobar karuhun ,kahyangane sanghyang tunggal ,sapa reke kang jumeneng mung hartati,katong tengahing tawang
gunung agung sagara sarandil,langit ingkang amengku bawana ,kawruhana ing artine ,gunung sagara umung ,guntur sirna amengku bumi ,rug kang langit bawana,dadya weruh iku,mudya madyaning ngawiyat,mangasrama ing gunung agung sabumi,candhi candhi sagara
gunung luhure kabiri giri,sagara agung datanpa sama ,pan sampun kawruhan reke,artadaya puniku datan kena cinakreng budi,aging sampung prapta ing kuwasanipun angadeg tengahing jagad,wetan kulon lor kidul ngadhap myang nginggil,kapurba wisesa
bumi sagara gunung myang kali sagunging kang isining bawana ,kasor ing artadayane ,sagara sat kang gunung,guntur sirna guwa samya nir,singa wruh artadaya ,dadya teguh timbul,lan dadi paliyasing prang,yen lulungan kang kapapag wedi asih,sato galak suminggah
jim peri prayangan samya wedi mendhak asih sakehing drubiksa ,rumeksa siyang dalune.singa anempuh lumpuh,tan tumama ing awak mami,kang nedya tan raharja ,kabeh pan linebur,sakehe kang nedya ala,sirna kang nedya ebcik basuki,kang sinedya waluya
siyang ndalu rineksa hyang widi,dinulur saking karseng hyang sukma,kandhep ing jalma kabeh,apan wikuning wiku wikan ,liring pujasamadi dadi sasedyanira mangunah linuhung paparah hyang tegalana ,sampen yen tuwajuh jroning ati,kalis ing pancabaya
yen kinarya atunggu wong sakit ,ejim setan datan wani ngambah rineksa malaekate,nabi wali angepung ,sakeh lara samya sumingkir ,ingkang nedya mitenah ,maring awak ingsun ,rinusak dening pangeran ,eblis laknat sato mara padha mati,tumpes tapis sadaya
Sejati ing Jiwo
GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana? Lan sapa wonge sing bisa nggoleki? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi nglayang ing awang-awang, ya ora bakal bisa nggoleki tapake. Apa maneh manungsa. Diperese nganti asat keringete, diputera nganti mumet akale, langka manungsa bisa meruhi tapaking kuntul anglayang mau.
Pancen tetembungan mau ora bakal tinemu ing nalar. Tetembungan mau klebu kawruhing kasampurnan, sing isbate mung bisa dionceki srana tirakat lan laku. Mula yen arep nggayuh kawruh tapaking kuntul anglayang mau, manungsa kudu nyuwungake kekarepan lan nalare. Lire, aja dheweke gondhelan ing sakabehing gegondhelan sing saiki digondheli. Padha sawangen kuntul sing mabur dhuwur ing awang-awang! Kuntul mau ora tau nyawang tilas tapake. Merga pancen ing awang-awang mau tapake ya ora ana. Kuntul mau bisane mung miber. Lan bisane miber, merga awake kesangga, sanadyan ora ana sing nyangga.
Kesangga ning rasane ora ana sing nyangga, ya kuwi karep sing winengku dening isbating ”golekana tapaking kuntul anglayang”. Lan sepisan maneh, ngrasaake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga bisa kelakon, yen manungsa bisa nyuwungake dhiri saka sakabehing gondhelaning uripe. Aja maneh mung raja brana, drajat lan pangkat, cekelan lan gamaning urip wae kudu diculake, yen manungsa pancen arep ngalami dhirine iki sejatine kesangga sanadyan ora ana sing nyangga.
Kawruh kasampurnan iki bisa diulur luwih dawa. Kaya dene aku bisa ngrasakake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga merga aku suwung saka sakabehing kekarepanku, aku uga bisa ngraksakake menawa aku iku duweni sakabehing yen aku iki ora duwe apa-apa. Utawa meruhi sakabehe, merga aku ora weruh apa-apa. Apa dene, aku iki ngrasake menawa aku ini temen ana, merga aku rila menawa aku ora ana.
Yen kawruh mau wis winengku, sejatine aku wis lumebu ing dating Pangeran sing murbeng jagad raya iki. Ya dating Pangeran mau sing akarya nganti aku kesangga sanadyan ora ana sing nyangga. Ya dat mau sing murugake aku duweni sakabehe sanadyan aku ora duwe apa-apa. Lan ya dat mau sing anyipta aku ana sanadyan aku ora ana.
Aku, manungsa sing kebak ing kasekengan lan kajiret ing bandha-bandhuning kadonyan, tangeh bisa ngrasuk ing dating Pangeran mau kanthi sampurna. Bisane mung icip-icip. Mula mangkene ature Suluk Sujinah: ”Dene mangan sapulukan tegeseipun, mung Allah kacipta, kalawan nyandang sasuwir, pujinira kawayang sajroning driya.” Peribasane, sanadyan mung sapulukan anggonku mangan, aku wis krasa tuwuk, anggere Pangeran tansah cinipta ing batinku. Lan sanadyan mung sasuwir anggonku nyandang, aku wis jangkep bebusanan, anggere Pangeran tansah pinuji ing batinku. Icip-icip sapulukan, nyandhang penganggo sasuwir, iku mau wis turah-turah tumraping uripku, anggere dating Pangeran sing dakicipi, lan busanane dat mau sing daksandang.
Mula wewadining ”tapaking kuntul anglayang” lan ”kesangga ora sinangga” iku sejatine ya pasrah ing Pangeran. Nanging aku iki manungsa sing urip ing donya. Mula pasrah ing Pangeran ora liya tegese kejaba menehake awakku kanggo pepadaku. Dating Pangeran kang murugake aku bisa kaya kuntul anglayang tanpa mikirake piye tapak lan tilase nembe bisa dakrasakake, yen aku wani muluk bareng karo pepadaku, supaya pepadhaku sing kurang mangan bisa mangan, lan aku wani nyandhang sasuwir amrih pepadhaku sing kurang sandhang uga bisa nyandhang.
Kawistara, kawruh ”tapaking kuntul anglayang” sejatine dudu kawruh kang dakik-dakik, mencit tan bisa ginayuh. Ora, kawruh iku kawruhe urip padinan, kepriye anggonku wani suwung ing saben dinane. Yaiku urip sing wani bagi binagi, sanadyan kayane ora ana sing dibagi. Wani mangan sapulukan bareng sing luwe. Wani nyandhang sasuwir bareng sing kecingkrangan. Ya ana ing pepadhaku sing luwe lan kecingkrangan bakal tinemu tapaking welas asihku. Lan bungah pepujining pepadhaku merga welas asihku mau sing bakal ngumbulake aku kaya kuntul ing awang-awang sing ora nggagas arep nggoleki tapake maneh. Linuwaran saka sakabehing jejiretan, mardika mabur ning awang-awang iku kepenak lan entenge tan kena kinaya ngapa. Ya gene aku isih ribut nggoleki tapak tilase uripku
Sastro Jendro
Dalam tataran keilmuan orang jawa ada beberapa hal yang harus ditempuh jika seseorag ingin mencapai kesempurnaan hidup,salah satunya tataran yang harus dilewati tertuang dalam kitab baswalingga karya pujangga besar jawa ki rangga warsita.tataran keilmuan yang termahtub dalam kitab karya rangga warsita ini adalah tentang sastra jendra hayuningrat.
menurut ki rangga warsita bahwasannya sastra jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup berdasarkan falsafah ajaran budha,dan apabila semua orang menaati semua ajaran sastra tadi niscaya bumi akan sejahtera,
nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra cetha alias sastra tanpa papan dan sastra tanpa tulis,walaupun tanpa tulis dan papan tapi maknanya terang alias cetha dan bisa digunakan sebagai serat papakem paugeraning gesang.
untuk mencapai sastra cetha ada 7 tahapan yang kudu dilalui yakni
tapaning jasad: mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik lainnya,lakunya tidak dendam ,sakit hati .semua hal diterima dengan legawa-tabah dengan kesungguhan hati alis tan milih tan nolak
tapaning budhi:artinya menghilangkan perbuatan yang hina (nista) dan hal hal yang tidak jujur
tapaning hawa nafsu:mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka dari pribadi kita.lakunya sabar dan selalu berusaha menyucikan diri,punya perasaan dalam,mudah memberi maaf dan taat pada tuhan yang maha esa.
tapaning cipta:artinya memperhatikan perasaan secara sungguh sungguh atau dalam bahasa jawanya ngesti sarasaning raos ati,berusaha sekuat tenaga menuju heneng–meneng-khusyuk-tumaknina,sehingga hasilnya tidak akan diombang ambingkan oleh siapapun dan apapun dan yang akhir selalu hening-wening atau waspada supaya bisa konsentrasi ke alloh swt
tapaning sukma:dalam tahapan ini kita fokus ke ketenangan jiwa.amalnya ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan kita dengan memberi derma kepada fakir miskin secara iklas
tapaning cahya:maknanya dalam tataran ini selalu eling,awas dan waspada.sehingga hasilnya kita mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat alis waskitha,amal eling dan waspada diikuti dengan menghindari hal hal yang bersifat glamour dunia atau memabukan yang mengakibatkan batin kita menjadi samar.
tapaning gesang:dalam tahapan akhir ini kita berusaha sekuat tenaga dengan hati hati menuju kesempurnaan hidup dan taat pada Tuhan Yang Mahaesa.
ilmu sastra jendra yang aku terangkan diatas berdasarkan kebatinan jawa,sastra ini bermakna mantra berdasarkan ilmu pengetahuan dengan kata lain ilmu untuk memupuk kesejahteraan dunia(memayu hayuning bawana). yang berasal dari bathara indra yang juga bermakna endra loka alias pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada(jantung),pusat dalam kaitan diatas bermakna sumber atau rasa sejati-ambang batas.hayu-ing-rat artinya menuju keselamatan dunia.
LIR-ILIR
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo… Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,? (blimbing apa??)
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang diatas sungguh luar biasa maknanya, kanjeng Sunan memberikan pelajaran hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah dan mudah diingat, coba mari kita kupas bait perbait dari makna tembang ini,
1. Lir-ilir, lir-ilir tembang ini dimulai dengan ilir-ilir artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (sejatinya tidur itu mati) bisa juga dimaknai sebagai sadarlah. Tetapi apa yang perlu dibangunkan? yaitu hidup kita (ingsun) hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? fikiran? —terserah kita yang penting disini ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan berdzikir. dzikir yang bagaimana??? (kita tanyakan pada diri kita masing-masing).
dengan berdzikir maka ada sesuatu yang dihidupkan.(kita fikirkan ini)
2. tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar kemudian dilanjutkan dengan bait berikutnya, bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Apakah ini pohon dhohir? tentu tidak pohon disini adalah pohon kalimatan toyyibah. yang akarnya tetap tertancap di bumi dan cabangnya ada empat serta tiap cabangnya menghasilkan buah makrifat atas izin Tuhannya.
3. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro. Bait ini memberikan petunjuk bahwa untuk mencapai buah dari pohon itu kita harus jadi anak gembala, apa yang kita gembala? ya diri kita sendiri yang perlu kita gembala, hawa kita, nafsu kita yng perlu kita gembalakan, kita didik dan kita jadikan kendaraan untuk bisa mencapai buah dari pohon toyyibah itu.
Susah susah ya ambil buah itu, meskipun susah buah dari pohon itu harus kita ambil untuk mencuci pakaian kita, pakaian dhohir? tetnu bukan, pakaian disini adalah pakaian Taqwa, pakaian taqwa ini harus kita cuci dengan buah dari pohon itu.
4. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore Pakaian kita (taqwa) harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Kemudian jika pakaian kita sudah dibersihkan, sudah kita rajut sangat indah maka pakaian kita itu kita kenakan, kita pakai untuk kembali ke Tuhan (Inna LILLAH).
5. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, Yo surako… surak hiyo… Bait ini mengingatkan kita untuk cepat-cepat bangun/sadar, cepat mengambil buah dari pohon toyyibah, kemudian mencuci pakaian dengan sari buah/air dari pohon toyyibah tersebut untuk mencuci pakaian kita (pakaian Taqwa). dengan pakaian Taqwa itu kita kembil ke Tuhan dengan menggunakan pakain yang indah. sehingga kita kembali ke pada-NYA sebagai Muttaqin.
Mumpung masih ada kesempatan, mari kita cepat-cepat untuk mengambil buah Itu, untuk bisa mencapai buah itu, kita harus bangun/sadar/nglilir dari tidak sadar/tidur, karena untuk mencapai buah itu sangat licin, mudah terpeleset jadi harus sadar, untuk bisa sadar harus Dzikir karena Dzikir itu untuk menyadarkan ruh kita dan mengingat Tuhan. (Keluar dari Lupa, masuk Kepada Ingat)
sehingga kita bisa mengambil buah itu, kita pakai untuk mencuci pakaian Taqwa kemudian kita
Inna LILLAHI wa Inna ILLAIHI ROJIUUN. “sesunggunya saya dari Alloh, dan kembali kepada Alloh”. Amiin
Berikut beberapa cuplikan Suluk-suluk Blio
Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.
Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.
Semoga manfaat …
Pesan Syeh Siti Jenar
Hidup itu bersifat baru
dilengkapi pancaindra
sebagai barang pinjaman
bila diminta pemiliknya kembali
menjadi tanah dan membusuk
hancur dan bersifat najis
karena sifatnya itu
Pancaindra tak dapat dipakai sebagai pedoman
Budi, pikiran, angan-angan, kesadaran
satu wujud dengan akal
bisa menjadi gila, sedih, bingung
lupa tidur dan sering tak jujur
ajak dengki terhadap sesama
‘tuk kebahagiaan sendiri
timbulkan jahat dan sombong
ke lembah nista nodai nama dan citra
Manusia yang hakiki
adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
berdiri dengan sendirinya
sukma menjelma sebagai hamba
hamba menjelma pada sukma
napas sirna menuju ketiadaan
badan kembali sebagai tanah
Adanya kehidupan itu karena pribadi
ditetapkan oleh pribadi
ditetapkan oleh kehendak nyata
hidup tanpa sukma
tiada merasakan sakit atau lelah
suka duka pun musnah
berdiri sendiri menurut karsanya
hidup sesuai kehendaknya
Serat Sabdo Jati
1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.
3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.
8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
kidung dhandhanggula, digambarkan sebagai berikut:
Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang, susuh angin ngendi
nggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, tapake
kuntul nglayang lan gigiring panglu, dst.
Di sini jelas bahwa “sesuatu” yang dicari itu adalah: susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang),gigir panglu (pinggir dari globe),wates langit (batas cakrawala), yang merupakan sesuatu yang “tidak
tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan” yang dalam bahasa
Jawa ” tan kena kinaya ngapa” yang pengertiannya sama
dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.
Dengan pengertian “acintya” atau “sesuatu yang tak tergambarkan” itu
mereka ingin menyatakan bahwa hakekat Tuhan adalah
sebuah “kekosongan”, atau “suwung”, Kekosongan adalah sesuatu yang
ada tetapi tak tergambarkan. Semua yang dicari dalam kidung
dhandhanggula di atas adalah “kekosongan” Susuh angin itu “kosong”,
ati banyu pun “kosong”, demikian pula “tapak kuntul nglayang”
dan “batas cakrawala”.
Jadi hakekat Tuhan adalah “kekosongan abadi
yang padat energi”, seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad
raya, yang meliputi segalanya secara immanen sekaligus transenden,
tak terbayangkan namun mempunyai energi luar biasa, hingga membuat
semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling
bertabrakan. Sang “kosong” atau “suwung” itu meliputi
segalanya, “suwung iku anglimputi sakalir kang ana”. Ia seperti
udara yang tanpa batas dan keberadaannya menyelimuti semua yang ada,
baik di luar maupun di dalamnya.
Karena pada diri kita ada Atman, yang tak lain adalah cahaya atau
pancaran energi Tuhan, maka hakekat Atman adalah juga “kekosongan
yang padat energi itu”. Dengan demikian apabila dalam diri kita
hanya ada Atman, tanpa ada muatan yang lain, misalnya nafsu dan
keinginan, maka “energi Atman” itu akan berhubungan atau menyatu
dengan sang “sumber energi”. Untuk itu yang diperlukan dalam usaha
pencarian adalah mempelajari proses “penyatuan” antara Atman dengan
Brahman itu. Logikanya, apabila hakekat Tuhan adalah “kekosongan”
maka untuk menyatukan diri, maka diri kita pun harus “kosong”, Sebab
hanya “yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosong”.
Caranya dengan berusaha “mengosongkan diri” atau “membersihkan diri”
dengan “menghilangan muatan-muatan yang membebani Atman” yang berupa
berbagai nafsu dan keinginan. Dengan kata lain berusaha
membangkitkan energi Atman agar tersambung dengan energi Brahman.
Dengan uraian di atas maka cara yang harus ditempuh adalah
melaksanakan “yoga samadi”, yang intinya adalah menghentikan segala
aktifitas pikiran beserta semua nafsu dan keinginan yang
membebaninya. Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah
menjadikan diri “kosong”. Karena itu salah satu caranya adalah
dengan “Amati Karya”, menghentikan segala aktifitas kerja.
Apabila “kekosongan” merupakan hakekat Tuhan, apakah Padmasana, yang
di bagian atasnya berbentuk “kursi kosong”, dan dianggap sebagai
simbol singgasana “Sang Maha Kosong” itu adalah perwujudan dalam
bentuk lain dari apa yang dicari orang Jawa lewat kidung-kidung kuna
itu? Apa sebabnya di Jawa tidak ada dan baru diwujudkan dalam bentuk
bangunan ketika leluhur Jawa berada di Bali? Mungkin saat itu di
Jawa memang tidak membutuhkan hal itu, karena masyarakat Jawa lebih
mementingkan “pemujaan leluhur”, yang dianggap
sebagai “pengejawantahan Tuhan”. Kata-kata Wong tuwa iku Pangeran
katon atau Orang tua (leluhur) itu Tuhan yang nampak, adalah bukti
adanya kepercayaan tersebut.
thank’s –Adi Soeripto
teks lengkap kidung dhandhanggulo diatas:
ana pandhita akarya wangsit ,mindha kombang sangajab ing tawang,susuh angin ngendi nggone ,lawan galihing kangkung,wekasane langit jaladri,isining wuluh wungwang lan gigiring punglu,tapaking kuntul anglayang ,manuk miber uluke ngungkuli langit,kusuma njrah ing tawang.
ngambil banyu apikulan warih ,amek geni sami adadamar,kodhok ngemuli elenge ,miwah kang banyu den khum.kang dahaan murub kabesmi .bumi pinetak ingkang pawana. katiyub,tanggal pisan kapurnaman yen anenun sonteg pisan anigesi kuda ngrap ing pandengan
….ana kayu apurwa sawiji ,wit buwana epang keblat papat,agedhong mega tumembe,apradapa kukuwung,.kembang lintang sagaar langit ,sami andaru kilat ,woh surya lan tengsu,asirat bun lawan udan,apupuncak akasa bungkah pertiwi,oyode bayu bajra
wiwitane duk anemu candhi ,gogodhongan miwah wawarangkan, sihing hyang kabesmi kabeh ,tan ana janma kang wruh yen weruho purwane dadi,candhi sagara wetan ,ingobar karuhun ,kahyangane sanghyang tunggal ,sapa reke kang jumeneng mung hartati,katong tengahing tawang
gunung agung sagara sarandil,langit ingkang amengku bawana ,kawruhana ing artine ,gunung sagara umung ,guntur sirna amengku bumi ,rug kang langit bawana,dadya weruh iku,mudya madyaning ngawiyat,mangasrama ing gunung agung sabumi,candhi candhi sagara
gunung luhure kabiri giri,sagara agung datanpa sama ,pan sampun kawruhan reke,artadaya puniku datan kena cinakreng budi,aging sampung prapta ing kuwasanipun angadeg tengahing jagad,wetan kulon lor kidul ngadhap myang nginggil,kapurba wisesa
bumi sagara gunung myang kali sagunging kang isining bawana ,kasor ing artadayane ,sagara sat kang gunung,guntur sirna guwa samya nir,singa wruh artadaya ,dadya teguh timbul,lan dadi paliyasing prang,yen lulungan kang kapapag wedi asih,sato galak suminggah
jim peri prayangan samya wedi mendhak asih sakehing drubiksa ,rumeksa siyang dalune.singa anempuh lumpuh,tan tumama ing awak mami,kang nedya tan raharja ,kabeh pan linebur,sakehe kang nedya ala,sirna kang nedya ebcik basuki,kang sinedya waluya
siyang ndalu rineksa hyang widi,dinulur saking karseng hyang sukma,kandhep ing jalma kabeh,apan wikuning wiku wikan ,liring pujasamadi dadi sasedyanira mangunah linuhung paparah hyang tegalana ,sampen yen tuwajuh jroning ati,kalis ing pancabaya
yen kinarya atunggu wong sakit ,ejim setan datan wani ngambah rineksa malaekate,nabi wali angepung ,sakeh lara samya sumingkir ,ingkang nedya mitenah ,maring awak ingsun ,rinusak dening pangeran ,eblis laknat sato mara padha mati,tumpes tapis sadaya
Sejati ing Jiwo
GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana? Lan sapa wonge sing bisa nggoleki? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi nglayang ing awang-awang, ya ora bakal bisa nggoleki tapake. Apa maneh manungsa. Diperese nganti asat keringete, diputera nganti mumet akale, langka manungsa bisa meruhi tapaking kuntul anglayang mau.
Pancen tetembungan mau ora bakal tinemu ing nalar. Tetembungan mau klebu kawruhing kasampurnan, sing isbate mung bisa dionceki srana tirakat lan laku. Mula yen arep nggayuh kawruh tapaking kuntul anglayang mau, manungsa kudu nyuwungake kekarepan lan nalare. Lire, aja dheweke gondhelan ing sakabehing gegondhelan sing saiki digondheli. Padha sawangen kuntul sing mabur dhuwur ing awang-awang! Kuntul mau ora tau nyawang tilas tapake. Merga pancen ing awang-awang mau tapake ya ora ana. Kuntul mau bisane mung miber. Lan bisane miber, merga awake kesangga, sanadyan ora ana sing nyangga.
Kesangga ning rasane ora ana sing nyangga, ya kuwi karep sing winengku dening isbating ”golekana tapaking kuntul anglayang”. Lan sepisan maneh, ngrasaake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga bisa kelakon, yen manungsa bisa nyuwungake dhiri saka sakabehing gondhelaning uripe. Aja maneh mung raja brana, drajat lan pangkat, cekelan lan gamaning urip wae kudu diculake, yen manungsa pancen arep ngalami dhirine iki sejatine kesangga sanadyan ora ana sing nyangga.
Kawruh kasampurnan iki bisa diulur luwih dawa. Kaya dene aku bisa ngrasakake kesangga sanadyan ora ana sing nyangga merga aku suwung saka sakabehing kekarepanku, aku uga bisa ngraksakake menawa aku iku duweni sakabehing yen aku iki ora duwe apa-apa. Utawa meruhi sakabehe, merga aku ora weruh apa-apa. Apa dene, aku iki ngrasake menawa aku ini temen ana, merga aku rila menawa aku ora ana.
Yen kawruh mau wis winengku, sejatine aku wis lumebu ing dating Pangeran sing murbeng jagad raya iki. Ya dating Pangeran mau sing akarya nganti aku kesangga sanadyan ora ana sing nyangga. Ya dat mau sing murugake aku duweni sakabehe sanadyan aku ora duwe apa-apa. Lan ya dat mau sing anyipta aku ana sanadyan aku ora ana.
Aku, manungsa sing kebak ing kasekengan lan kajiret ing bandha-bandhuning kadonyan, tangeh bisa ngrasuk ing dating Pangeran mau kanthi sampurna. Bisane mung icip-icip. Mula mangkene ature Suluk Sujinah: ”Dene mangan sapulukan tegeseipun, mung Allah kacipta, kalawan nyandang sasuwir, pujinira kawayang sajroning driya.” Peribasane, sanadyan mung sapulukan anggonku mangan, aku wis krasa tuwuk, anggere Pangeran tansah cinipta ing batinku. Lan sanadyan mung sasuwir anggonku nyandang, aku wis jangkep bebusanan, anggere Pangeran tansah pinuji ing batinku. Icip-icip sapulukan, nyandhang penganggo sasuwir, iku mau wis turah-turah tumraping uripku, anggere dating Pangeran sing dakicipi, lan busanane dat mau sing daksandang.
Mula wewadining ”tapaking kuntul anglayang” lan ”kesangga ora sinangga” iku sejatine ya pasrah ing Pangeran. Nanging aku iki manungsa sing urip ing donya. Mula pasrah ing Pangeran ora liya tegese kejaba menehake awakku kanggo pepadaku. Dating Pangeran kang murugake aku bisa kaya kuntul anglayang tanpa mikirake piye tapak lan tilase nembe bisa dakrasakake, yen aku wani muluk bareng karo pepadaku, supaya pepadhaku sing kurang mangan bisa mangan, lan aku wani nyandhang sasuwir amrih pepadhaku sing kurang sandhang uga bisa nyandhang.
Kawistara, kawruh ”tapaking kuntul anglayang” sejatine dudu kawruh kang dakik-dakik, mencit tan bisa ginayuh. Ora, kawruh iku kawruhe urip padinan, kepriye anggonku wani suwung ing saben dinane. Yaiku urip sing wani bagi binagi, sanadyan kayane ora ana sing dibagi. Wani mangan sapulukan bareng sing luwe. Wani nyandhang sasuwir bareng sing kecingkrangan. Ya ana ing pepadhaku sing luwe lan kecingkrangan bakal tinemu tapaking welas asihku. Lan bungah pepujining pepadhaku merga welas asihku mau sing bakal ngumbulake aku kaya kuntul ing awang-awang sing ora nggagas arep nggoleki tapake maneh. Linuwaran saka sakabehing jejiretan, mardika mabur ning awang-awang iku kepenak lan entenge tan kena kinaya ngapa. Ya gene aku isih ribut nggoleki tapak tilase uripku
Sastro Jendro
Dalam tataran keilmuan orang jawa ada beberapa hal yang harus ditempuh jika seseorag ingin mencapai kesempurnaan hidup,salah satunya tataran yang harus dilewati tertuang dalam kitab baswalingga karya pujangga besar jawa ki rangga warsita.tataran keilmuan yang termahtub dalam kitab karya rangga warsita ini adalah tentang sastra jendra hayuningrat.
menurut ki rangga warsita bahwasannya sastra jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup berdasarkan falsafah ajaran budha,dan apabila semua orang menaati semua ajaran sastra tadi niscaya bumi akan sejahtera,
nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra cetha alias sastra tanpa papan dan sastra tanpa tulis,walaupun tanpa tulis dan papan tapi maknanya terang alias cetha dan bisa digunakan sebagai serat papakem paugeraning gesang.
untuk mencapai sastra cetha ada 7 tahapan yang kudu dilalui yakni
tapaning jasad: mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik lainnya,lakunya tidak dendam ,sakit hati .semua hal diterima dengan legawa-tabah dengan kesungguhan hati alis tan milih tan nolak
tapaning budhi:artinya menghilangkan perbuatan yang hina (nista) dan hal hal yang tidak jujur
tapaning hawa nafsu:mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka dari pribadi kita.lakunya sabar dan selalu berusaha menyucikan diri,punya perasaan dalam,mudah memberi maaf dan taat pada tuhan yang maha esa.
tapaning cipta:artinya memperhatikan perasaan secara sungguh sungguh atau dalam bahasa jawanya ngesti sarasaning raos ati,berusaha sekuat tenaga menuju heneng–meneng-khusyuk-tumaknina,sehingga hasilnya tidak akan diombang ambingkan oleh siapapun dan apapun dan yang akhir selalu hening-wening atau waspada supaya bisa konsentrasi ke alloh swt
tapaning sukma:dalam tahapan ini kita fokus ke ketenangan jiwa.amalnya ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan kita dengan memberi derma kepada fakir miskin secara iklas
tapaning cahya:maknanya dalam tataran ini selalu eling,awas dan waspada.sehingga hasilnya kita mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat alis waskitha,amal eling dan waspada diikuti dengan menghindari hal hal yang bersifat glamour dunia atau memabukan yang mengakibatkan batin kita menjadi samar.
tapaning gesang:dalam tahapan akhir ini kita berusaha sekuat tenaga dengan hati hati menuju kesempurnaan hidup dan taat pada Tuhan Yang Mahaesa.
ilmu sastra jendra yang aku terangkan diatas berdasarkan kebatinan jawa,sastra ini bermakna mantra berdasarkan ilmu pengetahuan dengan kata lain ilmu untuk memupuk kesejahteraan dunia(memayu hayuning bawana). yang berasal dari bathara indra yang juga bermakna endra loka alias pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada(jantung),pusat dalam kaitan diatas bermakna sumber atau rasa sejati-ambang batas.hayu-ing-rat artinya menuju keselamatan dunia.
LIR-ILIR
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo… Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,? (blimbing apa??)
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang diatas sungguh luar biasa maknanya, kanjeng Sunan memberikan pelajaran hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah dan mudah diingat, coba mari kita kupas bait perbait dari makna tembang ini,
1. Lir-ilir, lir-ilir tembang ini dimulai dengan ilir-ilir artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (sejatinya tidur itu mati) bisa juga dimaknai sebagai sadarlah. Tetapi apa yang perlu dibangunkan? yaitu hidup kita (ingsun) hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? fikiran? —terserah kita yang penting disini ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan berdzikir. dzikir yang bagaimana??? (kita tanyakan pada diri kita masing-masing).
dengan berdzikir maka ada sesuatu yang dihidupkan.(kita fikirkan ini)
2. tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar kemudian dilanjutkan dengan bait berikutnya, bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Apakah ini pohon dhohir? tentu tidak pohon disini adalah pohon kalimatan toyyibah. yang akarnya tetap tertancap di bumi dan cabangnya ada empat serta tiap cabangnya menghasilkan buah makrifat atas izin Tuhannya.
3. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro. Bait ini memberikan petunjuk bahwa untuk mencapai buah dari pohon itu kita harus jadi anak gembala, apa yang kita gembala? ya diri kita sendiri yang perlu kita gembala, hawa kita, nafsu kita yng perlu kita gembalakan, kita didik dan kita jadikan kendaraan untuk bisa mencapai buah dari pohon toyyibah itu.
Susah susah ya ambil buah itu, meskipun susah buah dari pohon itu harus kita ambil untuk mencuci pakaian kita, pakaian dhohir? tetnu bukan, pakaian disini adalah pakaian Taqwa, pakaian taqwa ini harus kita cuci dengan buah dari pohon itu.
4. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore Pakaian kita (taqwa) harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Kemudian jika pakaian kita sudah dibersihkan, sudah kita rajut sangat indah maka pakaian kita itu kita kenakan, kita pakai untuk kembali ke Tuhan (Inna LILLAH).
5. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, Yo surako… surak hiyo… Bait ini mengingatkan kita untuk cepat-cepat bangun/sadar, cepat mengambil buah dari pohon toyyibah, kemudian mencuci pakaian dengan sari buah/air dari pohon toyyibah tersebut untuk mencuci pakaian kita (pakaian Taqwa). dengan pakaian Taqwa itu kita kembil ke Tuhan dengan menggunakan pakain yang indah. sehingga kita kembali ke pada-NYA sebagai Muttaqin.
Mumpung masih ada kesempatan, mari kita cepat-cepat untuk mengambil buah Itu, untuk bisa mencapai buah itu, kita harus bangun/sadar/nglilir dari tidak sadar/tidur, karena untuk mencapai buah itu sangat licin, mudah terpeleset jadi harus sadar, untuk bisa sadar harus Dzikir karena Dzikir itu untuk menyadarkan ruh kita dan mengingat Tuhan. (Keluar dari Lupa, masuk Kepada Ingat)
sehingga kita bisa mengambil buah itu, kita pakai untuk mencuci pakaian Taqwa kemudian kita
Inna LILLAHI wa Inna ILLAIHI ROJIUUN. “sesunggunya saya dari Alloh, dan kembali kepada Alloh”. Amiin
Diposting oleh Khoirul Umam di 18.20 0 komentar
Label: Renungan Menuju Ilahi
Sabtu, 12 Juli 2008
KISAH KISAH SUFI
MEMBELI KUPON LOTRE
Orang beragama saleh mengalami masa sulit. Maka ia mulai berdoa cara berikut: "Tuhan, ingatlah tahun-tahun yang sudah lewat aku mengabdi-Mu sebaik mungkin, tidak minta apa-apa sebagai balasan. Sekarang aku sudah tua, bangkrut lagi. Sekarang aku akan mohon kebajikan-Mu untuk pertama kalinya di dalam hidup, dan aku yakin Engkau tidak akan berkata Tidak: Biarlah aku putus lotre." Hari - lewat- lalu minggu - lalu bulan. Tetapi tak terjadsesuatu. Akhirnya, hampir-hampir putus asa, ia berteriakpada suatu malam. "Mengapa aku tak Kauberi kesempatan,Tuhan?" Ia tiba-tib mendengar suara Tuhan menjawab, "Berilah aku kesempatan dulu! Mengapa engkau tidak membeli kupon lotre?"
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
CHING MEMBUAT SEBUAH BINGKAI LONCENG
Seorang pengukir bernama Ching menyelesaikan pekerjaan pada sebuah bingkai loncenqg. Setiap orang melihat mengaguminya, karena rupanya itu seperti karya roh halus. Ketika Pangeran di Lu melihat itu, ia bertanya: "engkau itu genius macam apa, engkau dapat membuat barang seperti itu?" Pengukir menjawab: "Duli tuanku, aku ini hanya seorang pekerja biasa. Saya bukan genius. Tetapi ada sesuatu. Kalau aku membuat bingkai lonceng, aku bermeditasi selama tiga hari untuk menenangkan pikiranku. Kalau sudah meditasi tiga hari, aku tidak lagi berpikir tentang pahala atau upah. Kalau aku bermeditasi lima hari, aku tidak lagi memikirkan
pujian atau celaan, keterampilan atau kelambanan. Kalau aku bermeditasi tujuh hari aku tiba tiba lupa anggota lain tubuhku; ya, aku lupa diriku sendiri. Aku tidak sadar lagi akan istana dan alam sekitarnya. Hanya pribadiku saja tetap tinggal. Dalam keadaan itu aku masuk hutan, dan memeriksa setiap pohon, sampai aku temukan satu, di mana kulihat bingkai lonceng sempurna. Lalu tanganku mengerjakan tugas. Setelah menyisihkan diriku, kodrat bertemu kodrat dalam karya yang dilakukan melalui aku. Inilah kiranya yang menyebabkan setiap orang berkata, bahwa hasil yang terselesaikan itu karya para roh halus." Kata seorang pemain biola terkenaltentang suksesnya dalam memainkan Violin Concerto karya Beethoven. "Aku punya musik hebat, biola hebat, dan alat gesek hebat. Apa yang kuperlukan hanya mempertemukan mereka itu dan aku sendiri menyingkir."
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
pujian atau celaan, keterampilan atau kelambanan. Kalau aku bermeditasi tujuh hari aku tiba tiba lupa anggota lain tubuhku; ya, aku lupa diriku sendiri. Aku tidak sadar lagi akan istana dan alam sekitarnya. Hanya pribadiku saja tetap tinggal. Dalam keadaan itu aku masuk hutan, dan memeriksa setiap pohon, sampai aku temukan satu, di mana kulihat bingkai lonceng sempurna. Lalu tanganku mengerjakan tugas. Setelah menyisihkan diriku, kodrat bertemu kodrat dalam karya yang dilakukan melalui aku. Inilah kiranya yang menyebabkan setiap orang berkata, bahwa hasil yang terselesaikan itu karya para roh halus." Kata seorang pemain biola terkenaltentang suksesnya dalam memainkan Violin Concerto karya Beethoven. "Aku punya musik hebat, biola hebat, dan alat gesek hebat. Apa yang kuperlukan hanya mempertemukan mereka itu dan aku sendiri menyingkir."
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
Diposting oleh Khoirul Umam di 02.08 0 komentar
Label: MUSIM GUGUR
Jumat, 11 Juli 2008
ALLOH TIADA SATU APAPUN DISAMPINGNYA DARI DULU SAMPAI SEKARANG
1. Tuhan Yang Maha Esa, itu WUJUD ADA-NYA mustahil tiadanya, namun ke ADA-anNya Tuhan Yang Maha Esa, tidak bisa dibanding-bandingkan/disamakan dengan segala sesuatu keadaan duniawi atau sari rasanya alam, sebab Tuhan Yang Maha Esa bukanlah duniawi atau sari rasanya alam.
2. Tuhan Yang Maha Esa, adalah asal dari segala usul keadaan yang sifat-sifatnya ada (lahir) dan yang sifatnya tiada (batin), sehingga Tuhan Yang Maha Esa, disebut Hyang Maha Agung, karena tiada bandingannya.
2. Tuhan Yang Maha Esa, adalah asal dari segala usul keadaan yang sifat-sifatnya ada (lahir) dan yang sifatnya tiada (batin), sehingga Tuhan Yang Maha Esa, disebut Hyang Maha Agung, karena tiada bandingannya.
3. Tuhan Yang Maha Agung, berada di segala benda, tempat, ruang dan alam suwung, sampaipun dalam setiap hati sanubarinya Umat, sehingga Tuhan Yang Maha Agung disebut Hyang Maha Murba.
4. Tuhan Yang Maha Murba itu Maha Kuasa, yang oleh kekuasaanNYA menghidupkan jagad raya dengan segala isinya, sehingga semua mahluk dapat mengetahui dan menikmati segala yang sifatnya ada (wujud benda) dan yang sifatnya tiada (wujud rasa). Oleh sebab itu Tuhan Yang Maha Kuasa disebut Hyang Sukma.
5. Hyang Sukma Nyata Ada Nya di huruf, pucuk menjadi daun, kembang menjadi buah, telor itik menetaskan itik, patah tumbuh hilang berganti. Oleh sebab itu Hyang Sukma disebut juga Hyang WIDI.
6. Hyang Widi tidak akan melarang atau menyuruh umatNya melakukan sesuatu, diserahkanNya-lah kepada umatNya itu sendiri untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilaksanakan menurut kehendaknya, sebab untuk keperluan itu umatNya telah dilengkapi akal pikiran, budi dan pekerti. Oleh karena itu Hyang Widi disebut Hyang Manon.
7. Hyang Manon itu Maha Uninga (tahu) Yang Uninga Nya itu tiada batas sampai gerak hatinya umat diketahui Nya pula, di hadapanNya tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan yang benar akan tetap benar dan sebaliknya yang salah akan tetap salah. Karena itu Hyang Manon disebut juga Hyang Maha Adil.
8. Hyang Maha Adil melindungi semua umat dengan HukumNya yang pasti dan kekal, merata dan menyeluruh secara semesta pada setiap detik dan peristiwa dengan tidak membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Yang memegang api akan terbakar, yang memegang air akan basah, yang makan garam akan merasa asin, dan sebagainya. Segala perbuatan baik/buruk akan menetapkan hukumannya masing-masing. Siapapun yang menanam, ia pulalah yang akan memetik buahnya. Oleh karena itu Hyang Maha Adil disebut juga Hyang Maha Belas Kasih.
9. Hyang Maha Belas Kasih menetapkan HukumNya bagi setiap Umat, yang dilahirkan musti (semestinya/sewajarnya) melalui proses jenis yang berlawanan pria dan wanita, jantan dan betina yang diselimuti kemesraan penuh kasih sayang dan kenikmatan yang dalam. Untuk sarana hidup dan penghidupan umatNya itu dilengkapi dengan lahir dan batin (diri) serta dunia dan isinya yang dalam kehidupan masyarakatnya disebut Bangsa dan Tanah Air, yang untuk pengelolaan dan pengolahannya menggunakan Bahasa dan Kebudayaannya sesuai dengan sifat, adat dan kodratnya agar dapat berkembang sesuai dengan tuntutan dan kemajuan jaman. Karena itu Hyang Maha Belas Kasih disebut juga Hyang Maha Murah.
10. Kemurahan Tuhan nyata dengan adanya diri (lahir dan batin) yang diperoleh bukan dari pada hasil pembelian, bahasa dan budaya yang menjadi kepribadian Bangsanya yang bukan peninggalan dan hadiah Bangsa lain namun adalah hikmah dari Tuhan Yang Maha Murah, yang tak tertukar antara Bangsa yang satu dengan yang lainnya.
11. Namun Maha Awis Nya Tuhan Yang Maha Esa, karena Ada-Nya tidak dapat diraba, kenyataannya tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Bahkan segala sesuatu yang telah dijadikannya, apabila cacad/cidera baik jasmaniah atau rokhaniah, tidak ada seorang jugapun yang dapat membuatnya.
12. Kesemua tersebut di atas menunjukkan kenyataan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu:
WUJUD: Asal dari segala asal yang wujud, seperti jagad raya dan isinya.
KEKAL: Tidak ada awal dan akhirnya.
TERDAHULU: Mendahului segala keadaan yang sifatnya ada (lahir) dan yang sifatnya tidak ada (batin/rasa)
BEDA: Tidak dapat disamakan/dibandingkan dengan segala sesuatu keadaan dunia dan isinya.
TUNGGAL: Hanya satu Tuhan, ialah Yang Maha Esa tidak ada lainnya lagi:
HidupNya tanpa nafasRunguNya tanpa telingaTingaliNya tanpa mataNgandikaNya tanpa mulut.
Terima kasih sudah mendayagunakan dokumen ini!
Diposting oleh Khoirul Umam di 18.01 2 komentar
Rabu, 28 Mei 2008
MENYIBAK TAKBIR TAHLIL
Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?
Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).
dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.
Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,
Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,
munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.
Yang dilarang itu adalah jika kita mewajibkan peringatan 3, 7, 40 hari dst sebagai keharusan,.. karena tidak ada dalil yg mewajibkannya.”
Terjadi kesalahkaprahan di masyarakat kita (setidaknya yang saya tahu di Jawa) yang mewajibkan peringatan tersebut sebagai hukum tak tertulis. Dan satu hal lagi, masyarakat yang tidak mampu memaksakan diri mengadakan peringatan itu dengan mengadakan jamuan-jamuan sedangkan yang mampu menyelenggarakannya secara berlebihan. Padahal yang penting kan dzikirnya, bukan hidangannya.
Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, (shahih Bukhari) bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).
Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).
Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.
Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
• Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.
• Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.
ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H
• Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).
Keutamaan tahlil:
Sabda Rasul SAW, Sesungguhnya doa yang terbaik adalah membaca: Alhamdulillaah. Se-dang zikir yang terbaik adalah: Laa Ilaaha Illallaah.”HR. At-Tirmidzi 5/462, Ibnu Majah 2/1249, Al-Hakim 1/503. Menurut Al-Hakim, hadits tersebut adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya, Lihat pula Shahihul Jami’ 1/362.
Keutamaan majelis dzikir:
Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidakada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya”. (Riwayat Muslim)
Komentar oleh orang awam — May 8, 2007 @ 1:07 am
Dalil perintah/anjuran berdoa:Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Q.S., Al-Mukmin: 60).“
Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S., Al-Baqarah: 186).
Komentar oleh org awam — May 8, 2007 @ 3:03 am
Dalil untuk mendoakan saudaranya:“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Komentar oleh org awam — May 8, 2007 @ 3:14 am
“Ta’ziyah, yaitu menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan mayitnya”Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Yaitu memotivasi orang yang tertimpa musibah agar lebih bersabar, dan meghiburnya supaya melupakannya, meringankan tekanan kesedihan dan himpitan musibah yang menimpanya”
Kapan? Sebagian ulama Syafi’iyah dan Hanbaliah membebaskannya waktunya. Sampai kapan saja, tidak ada pembatasan waktunya. Sebab, menurut mereka, tujuan dari ta’ziyah ini untuk mendo’akan, memotivasinya agar bersabar dan tidak melakukan ratapan, dan lain sebagainya. Tujuan ini tentu saja berlaku untuk jangka waktu yang lama.
Komentar oleh org awam — May 8, 2007 @ 3:19 am
Ketika seorang muslim mendapat musibah (ditinggal mati keluarga, kena gempa, dll), adalah suatu kesunahan bagi saudara-saudaranya untuk datang takziah kepadanya, serta menghibur agar bersabar dari cobaan.Tidak ada yang lebih baik dari menghibur serta meringankan bebannya selain daripada mengajaknya berdzikir, mengingat Allah, dan berdoa bersama-sama, mendoakan si mayit dan keluarga yg ditinggalkannya.
Inilah yang kemudian menjadi majelis tahlil (tahlilan), karena dalam majelis itu yang dibaca terutama adalah kalimat tahlil. Dasarnya adalah #
1.Mengenai waktu-nya bebas. JIka tradisi masyarakat adalah hari 3,7,40 dst.. itu hanya tradisi, tidak ada masalah karena tidak ada larangan dalam kaidah agama. Jika anda mau takziah hari ke 25 pun silahkan.
Yang dilarang itu adalah jika kita mewajibkan peringatan 3, 7, 40 hari dst sebagai keharusan,.. karena tidak ada dalil yg mewajibkannya.
Diposting oleh Khoirul Umam di 20.23 0 komentar
Kamis, 15 Mei 2008
SANDAL JEPIT INSTRIKU
Baitijannati. Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?
Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamienWassalamHamba Allah
Semoga Bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita.Wassalamualaikum wr wb
Menilai, Sebelum dan Sesudahnya
Dia menikahi suaminya karena dia adalah “pria yang demikian berkuasa,” dan dia menceraikan suaminya karena dia adalah “pria yang sangat menguasai.
” Dia menikahi istrinya karena dia begitu “lembut dan mungil” dan menceraikannya karena dia begitu “lemah dan tak berdaya”.
Dia menikahi suaminya karena ia “tahu membiayai hidup yang layak” dan menceraikannya karena “semua yang dipikirkannya hanyalah pekerjaan.”
Dia memperistrikan dia karena “dia mengingatkan saya kepada ibu saya” dan menceraikannya karena “dia setiap hari semakin mirip dengan ibu saya.”
Dia menikahi suaminya karena dia begitu “mudah bergaul dan romantis” dan menceraikannya karena dia “tak punya kemauan dan hanya ingin bersenang-senang.”
Dia memperistrikan dia karena dia begitu “mantap dan pandai” dan menceraikannya karena dia begitu “membosankan dan tidak menarik.” (baitijannati.wordpress.com)
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?
Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamienWassalamHamba Allah
Semoga Bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita.Wassalamualaikum wr wb
Menilai, Sebelum dan Sesudahnya
Dia menikahi suaminya karena dia adalah “pria yang demikian berkuasa,” dan dia menceraikan suaminya karena dia adalah “pria yang sangat menguasai.
” Dia menikahi istrinya karena dia begitu “lembut dan mungil” dan menceraikannya karena dia begitu “lemah dan tak berdaya”.
Dia menikahi suaminya karena ia “tahu membiayai hidup yang layak” dan menceraikannya karena “semua yang dipikirkannya hanyalah pekerjaan.”
Dia memperistrikan dia karena “dia mengingatkan saya kepada ibu saya” dan menceraikannya karena “dia setiap hari semakin mirip dengan ibu saya.”
Dia menikahi suaminya karena dia begitu “mudah bergaul dan romantis” dan menceraikannya karena dia “tak punya kemauan dan hanya ingin bersenang-senang.”
Dia memperistrikan dia karena dia begitu “mantap dan pandai” dan menceraikannya karena dia begitu “membosankan dan tidak menarik.” (baitijannati.wordpress.com)
Diposting oleh Khoirul Umam di 17.22 1 komentar
Label: SANDAL JEPIT ISTRIKU
Senin, 17 Desember 2007
KISAH MENJADI INSTRI MUDA
SENIN (4/12) pagi, Alf arini Eridani (37)--istri kedua K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)--berjumpa dengan "PR" di sebuah rumah di kompleks Pesantren Daarut Tauhiid (DT). Keponakan mantan Presiden RI, B.J. Habibie ini menyatakan terkejut mengetahui foto dirinya terpampang di halaman 1 "PR", Senin (4/12).Untuk pertama kalinya, usai menjalani ”prosesi penerimaan" sebagai keluarga besar Pesantren Daarut Tauhiid (DT)-Manajemen Qalbu (MQ) di Masjid DT Bandung, Senin (4/12) sekira pukul 9.25 WIB, Alfarini Eridani bersama Teh Ninih diajak Aa Gym menuju ke rumahnya untuk beristirahat.*ACHMAD SETIYAJI/"PR"
Dia menanyakan asal usul foto tersebut, dan "PR" pun menjelaskan foto setengah badan berbusana hitam itu diterima "PR" dari pasangan Hj. Ninih Muthmainnah (Teh Ninih) dan Aa Gym tatkala makan bersama di sebuah kafe di Jln. Dago Bandung pada Minggu (3/12) malam. Mendengar hal itu, Rini--begitu panggilan Alfarini Eridani--tersenyum.
Senin (4/12), memang hari istimewa bagi Rini. Selain merupakan hari ulang tahun yang ke-37, Rini secara spontan juga menjalani prosesi "penerimaan" keluarga besar Pesantren DT dan Manajemen Qalbu (MQ). Pasalnya, dalam forum tausiyah rutin yang diisi ceramah oleh Aa Gym dan Teh Ninih, Rini didaulat untuk hadir dan berbicara di depan audiens.
Ceritanya, setelah sekira setengah jam Aa Gym menjelaskan secara runtut dan lengkap "lelakon"-nya hingga menikahi Rini, seorang santri DT, Yuliawati (penanggung jawab operasional
yatim piatu anak-anak asuh Aa Gym) menanggapi materi ceramah Aa Gym, serta mengajak hadirin untuk memaklumi kenyataan yang dialami Aa Gym dan Teh Ninih. Yuliawati menyarankan untuk menghadirkan Rini.Aa Gym pun menganjurkan Yuliawati untuk menjemput Rini dari rumahnya, yang tak jauh dari masjid DT. Suatu peristiwa menarik pun terjadi, Yuliawati bergegas naik motornya dan tancap gas. Seorang wartawan "mengejar" Yuliawati agar dapat mengabadikan momentum langka tersebut.
Sementara itu, para staf sekpim dan pengawal Aa Gym--yang biasanya peka dan tanggap terhadap keperluan Aa Gym dan Teh Ninih--tampak terperanjat dengan situasi tersebut. Barulah setelah ada yang mengingatkan tugasnya, seorang staf sekpim menyusul Yuliawati dengan kendaraan. Standar pengamanan kepada istri kedua Aa Gym itu, langsung diberlakukan.
**
DENGAN tersipu-sipu malu, Rini turun dari mobil, lalu masuk ke masjid DT. Ribuan orang tampak memerhatikannya. Roman muka hadirin beragam, terutama kaum perempuan. Di antara mereka ada yang terlihat tersenyum hangat, dan ada pula yang tersenyum agak terpaksa.
Saat itu, Aa Gym langsung meminta Rini berbicara. Kepada hadirin, Rini meminta maaf apabila yang dilakukannya--menikah dengan Aa Gym--menimbulkan suasana kurang nyaman di tengah keluarga besar DT-MQ. "Saya sadar, ini semua takdir dari Allah SWT, dan saya tidak menyangka prosesnya secepat ini," tutur Rini.
Teh Ninih yang duduk di samping Rini, diminta Aa Gym untuk berbicara. Seraya mengutip ayat suci Alquran, Teh Ninih--dengan penuh haru--menuturkan, "Allah menciptakan hamba-Nya untuk saling mengenal dan berkasih sayang. Firman Allah SWT adalah kebenaran, sehingga pengamalan ajaran Allah SWT seperti saling berkasih sayang tentunya mengandung banyak hikmah."
Usai Teh Ninih bicara, Aa Gym menegaskan bahwa dengan kehadiran Rini di tengah forum tausiyah itu, diharapkan keluarga besar DT-MQ dapat menerimanya dengan baik. "Mulai hari ini tentunya Mbak Rini adalah bagian dari keluarga besar DT dan MQ. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama berdakwah," ujar Aa Gym.
Acara prosesi itu pun berakhir. Rini langsung mencium tangan Teh Ninih dan memeluknya. Para santri putri juga menyalami serta mencium Rini dan Teh Ninih. Banyaknya santri dan ibu-ibu yang menyalami serta mengucapkan selamat, menjadikan Rini dan Teh Ninih sulit bergerak dari tempatnya duduk.
Selanjutnya, Aa Gym turun keluar masjid. Teh Ninih bersama Rini menyusulnya. Di depan masjid DT, ratusan santri dan ibu-ibu menyalami Teh Ninih dan Rini.
Tak lama kemudian, dengan didampingi Teh Ninih dan Rini, Aa Gym menuju ke rumahnya yang jaraknya dari masjid sekira 200 meter. Jemaah dan warga setempat pun memanggil-manggil Aa Gym, Teh Ninih, dan Rini. Mereka tampak senang dengan "mencair"-nya suasana di lingkungan pesantren DT.
Untuk pertama kalinya setelah "bersembunyi", Rini memasuki rumah Aa Gym dengan didampingi Teh Ninih. Di dalam rumah itulah, Rini merasakan kembali kehangatan suasana rumah tangga yang diikhtiarkan oleh Aa Gym dan Teh Ninih sebagai "rumahku-surgaku".
**
SEBELUM Rini ”didaulat" hadir, Aa Gym menjelaskan, tujuan utama poligami ialah menghilangkan citra bahwa poligami suatu kekeliruan atau kejahatan, menyadarkan masyarakat untuk berhati-hati dan tidak menggampangkan berpoligami.
"Selain itu, bagi yang sudah telanjur berpoligami diharuskan menata keluarganya menjadi sakinah mawaddah wa rahmah. Sepanjang satu tahun saya sering salat istikarah, memohon petunjuk-Nya. Saya yakin ini perjuangan, sehingga risiko caci maki, dan hinaan saya terima. Tapi saya yakin, satu atau dua tahun mendatang akan terlihat hikmahnya," tuturnya.
Menurut Teh Ninih, pada awalnya merasa berat menerima Aa Gym berpoligami. Kenapa? Karena, sebagai perempuan, yang dipakai perasaan. Antara perasaan dan hawa nafsu sulit dibedakan. "Selama lima tahun saya dipersiapkan oleh Aa Gym untuk menerima konsep poligami. Kini saya sadar, poligami itu indah dan komplet sebagai bagian dari pembelajaran manajemen qalbu menuju bersih hati. Saya tidak mau menuhankan hawa nafsu dengan menolak ajaran Allah dalam hal berpoligami," tutur Teh Ninih.
Pernyataan senada diungkapkan pengamat keagamaan, H. Nanang Iskandar Ma'soem, S.E.,M.S., K.H. Shidiq Amien, dan Dr. K.H. Miftah Faridl. Menurut Nanang Iskandar, status kemusliman seseorang perlu ditinjau kembali bila menentang ajaran Allah ihwal poligami. (Achmad Setiyaji/"PR")*** Pikiran Rakyat
Diposting oleh Khoirul Umam di 18.39 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)

